Berbagi ilmu dan informasi bersama kami

.
.
Tuesday, November 25, 2014

Apa Itu Backlink Gaib? Bagaimana Cara Mendapatkannya?

Backlink Gaib Saat ini kita sudah sering mendengar kata backlink, tentunya bagi seorang blogger yang salah satu kegiatannya adalah mencari backlink. Tapi pernahkah Anda mendengar istilah Backlink Gaib? Jika belum, maka Anda bisa membaca kelanjutan dari artikel ini. Pengertian Backlink Gaib Tujuan utama mencarikan backlink untuk sebuah blog adalah agar blog tersebut memiliki kekuatan untuk

Jamaluddin Muhammad 19 Nov, 2014


-
Source: http://masterbama.blogspot.com/2014/11/backlink-gaib.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
Unknown
Tuesday, January 21, 2014

Karya-karya dari Al-Amiri

Karya dari
al-'Amiri
al-'Amiri
Berikut ini tabel yang menjelaskan judul, sumber penyebutan, isi, dan kondisi aktual karya-karya al-‘Amiri.

No    Nama buku    Isi    Kondisi aktual     
1    Al-Amad ‘ala al-Abad (On the Afterlife)
Telah disunting dan dipublikasikan oleh E.K. Rowson dalam A Muslim Philosopher on the Soul and Its Fate: Al-‘Amiri’s Kitab al-Amad ‘ala al-Abad, New Haven, CT: American Oriental Society, 1988.     
2    Al-Ibanah ‘an ‘Ilal al-Diyanah    Perbandingan hukum ekonomi dan pidana Islam dengan hukum masalah tersebut di dalam agama-agama lain.    Tidak ditemukan     3    Al-I‘lam bi Manaqib al-Islam (An Exposition on the Merits of Islam)    Perbandingan agama Islam dengan agama Yahudi, Kristen, Majusi, Politheisme, dan Sabi’ah baik dalam bidang akidah, ibadah, syariat, politik, akhlak, sosial, maupun budaya.    Telah dipublikasikan dengan judul Kita>b al-I‘la>m bi Mana>qib al-Isla>m li Abi> al-Hasan al-‘A>miri> Tahqi>q wa Dira>sah fi> Muqa>ranah al-Adya>n, Ahmad ‘Abd al-Hamid Ghurab, Riyad: Mu’assasah Dar al-Asalah li al-Thaqafah wa al-Nashr wa al-I‘lam, cet. I, 1408 H./1988 M. Bab pertamanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh F Rosenthal dalam The Classical Heritage of Islam, Berkeley: University of California Press, 1973, 63-70. Bab 7 juga diterjemahkan Rosenthal dalam State and Religion According to Abu l-Hasan al-‘Amiri, Islamic Quarterly 3:42-52.     
4    Al-Irshad li Tashih al-I‘tiqad    Syarat-syarat penafsiran al-Quran serta perbandingan ajaran tentang kebangkitan dan alam akhirat dalam agama Majusi, Manicheisme, Yahudi, dan Nasrani.    Tidak ditemukan     
5    Al-Nusuk al-‘Aqli wa al-Tasawwuf al-Milli             
6    Al-Itmam li Fada’il al-Anam             
7    Al-Taqrîr li Awjuh al-Taqdi>r (The Determination of the Various Aspects of Predestination)    Aspek-aspek hikmah Tuhan dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta.    Telah disunting dan dipublikasikan oleh Sahban Khalifat dalam bukunya Rasa>’il Abi> al-Hasan al-‘A>miri> wa Shadhara>tuh al-Falsafiyyah Dira>sah wa Nus}u>s}, Amman: Manshurat al-Jami‘ah al-Urduniyyah, 1988, h. 275-341.     
8    Inqadh al-Bashar min al-Jabr wa al-Qadr (Deliverance of Mankind from the Problem of Predestination and Free Will)    Solusi bagi problem free will dalam teologi dengan menggunakan prinsip-prinsip Aristotelian.    Telah disunting dan dipublikasikan oleh Sahban Khalifat dalam bukunya Rasa>’il Abi> al-Hasan al-‘A>miri>, h. 219-281.     
9    Al-Fusul al-Rabbaniyyah li al-Mabahith al-Nafsaniyyah             
10    Fusul al-Ta’addub wa Fudul al-Ta‘ajjub             
11    Al-Abshar wa al-Ashjar             
12    Al-Ifsah wa al-Idah             
13    Al-‘Inayah wa al-Dirayah    Tauhid dan kritik terhadap pandangan Aristoteles tentang Tuhan dan Hari Akhir.    Tidak ditemukan.     
14    Al-Abhath ‘an al-Ahdath        Gambaran tentang isinya dijelaskan di dalam Rasa>’il Abi> al-Hasan al-‘A>miri>, h. 468.     
15    Istiftah al-Nazr             
16    Al-Absar wa al-Mubsar    Ilmu Optik.    Telah disunting dan dipublikasikan oleh Sahban Khalifat dalam bukunya Rasa>’il Abi> al-Hasan al-‘A>miri>, h. 383-437.     
17    Tahsil al-Salamah             
18    Al-Tabsir li Awjuh al-Ta‘bir             
19    Masa’il wa Rasa’il al-Wajizah             
20    Ajwibah al-Masa’il al-Mutafarriqah             
21    Sharh al-Usul al-Mantiqiyyah             
22    Tafasir al-Musannafat al-Tabi‘iyyah             
23    Rasa’il ila al-Umara’ wa al-Ru’asa’             
24    Al-Fusul fi al-Ma‘alim al-Ilahiyyah    Akidah Islam    Telah disunting dan dipublikasikan oleh Sahban Khalifat dalam bukunya Rasa>’il Abi> al-Hasan al-‘A>miri>, h. 345-379.     
25    Kitab al-Burhan    Uraian tentang hukum-hukum logika    Tidak ditemukan.     
26    Sharh Kitab al-Maqulat li Aristu    Komentar terhadap bagian al-Maqu>lat dalam Organon karya Aristoteles    Telah disunting dan dipublikasikan oleh Sahban Khalifat dalam bukunya Rasa>’il Abi> al-Hasan al-‘A>miri>, h. 442-467.   
Selain buku-buku tersebut, Mona Abu Zayd menyebut buku al-Sa‘a>dah wa al-Is‘a>d sebagai karya al-‘Amiri. Buku ini telah dipublikasikan oleh Mujtaba Minawi tanpa disunting.[21]

Corak Pemikiran dari al-'Amiri

Corak Pemikiran
Beberapa orang yang sezaman dengan al-‘Amiri menggolongkan al-‘Amiri sebagai orang yang lebih mengutamakan filsafat daripada syariat dan lebih mengutamakan filsuf daripada nabi seperti al-Maqdisi, Ikhwan al-Safa, Abu Zayd al-Balkhi, Abu Tammam al-Naysaburi, dan lain-lain. Di dalam kitab al-Imta>‘ wa al-Mu’a>nasah pada diskusi malam ke-17 al-Tawhidi mengutip perdebatan al-Hariri dengan al-Maqdisi. Al-Hariri mengecam al-‘Amiri akibat pandangannya yang membuat marah sebagian orang. Al-Hariri berkata:

Pandangan yang sama (mengutamakan filsafat atas syariah) dilontarkan oleh al-‘Amiri. Akibatnya, dia terusir dari satu kota ke kota lainnya. Darah dan nyawanya terancam. Terkadang dia berlindung di istana Ibnu al-‘Amid, terkadang kepada Panglima Nishapur, dan terkadang dia menjilat orang awam dengan menulis buku-buku yang membela Islam. Tapi, meskipun demikian, dia tetap dituduh atheis, menyatakan kekadiman alam, serta bercerita tentang hayula, forma, waktu, dan tempat, serta omong kosong lainnya yang tidak disebut Allah di dalam kitab-Nya, tidak diajarkan oleh Rasul-Nya, dan tidak populer di kalangan umat-Nya.[16]

Corak filosofis dalam pemikiran al-‘Amiri memang tidak dapat dipungkiri. Khalifat menggolongkan al-‘Amiri sebagai Neo-Platonis Muslim, sedangkan Ghurab memasukkannya ke dalam aliran filsafat al-Kindi karena al-‘Amiri adalah murid filsuf dan ahli geografi terkenal, yaitu Abu Zayd Ahmad bin Sahl al-Balkhi (w. 322 H./933 M.) dan al-Balkhi adalah murid al-Kindi. Al-‘Amiri, seperti gurunya, mengintegrasikan di dalam dirinya ilmu-ilmu agama yang berbasis pada wahyu dengan ilmu-ilmu filosofis yang berbasis pada akal. Dengan kata lain, dia mengintegrasikan ilmu-ilmu Arab dan Islam dengan ilmu-ilmu dari peradaban lain, terutama Yunani dan bangsa-bangsa kuno lainnya, lalu membingkai ilmu-ilmu dari peradaban lain itu dengan perspektif Islam.[17]

Nasr mengatakan bahwa saat di Baghdad Abu Sulayman al-Sijistani al-Mantiqi mengubah iklim filosofis kepada kajian-kajian tentang logika, di Khurasan al-‘Amiri juga melakukan hal yang kurang lebih sama. Dia mengembangkan ajaran-ajaran al-Farabi dan menambahkan bagian tersendiri dari dirinya ke dalam filsafat Islam dengan berusaha menggabungkan konsep-konsep Iran pra Islam ke dalam pandangan filsafat politiknya.[18] Di dalam al-Muqa>basa>t Abu Hayyan al-Tawhidi mengatakan bahwa al-‘Amiri menguasai Filsafat Yunani, bergelut dengan buku-buku Aristoteles, dan telah memberikan komentar atas beberapa buku tersebut.[19]

Al-Tawhidi juga memuji al-‘Amiri. Ketika ditanya tentang buku Inqa>dh al-Bashar min al-Jabr wa al-Ikhtiya>r dia mengatakan, “Aku sudah melihat buku itu dalam bentuk tulisan tangannya. Aku tidak membaca buku itu di hadapannya, tapi aku dengar Abu Hatim al-Razi telah membaca buku itu di hadapannya. Buku itu sangat bagus. Metode penulisannya kuat. Tapi, buku itu tidak membebaskan manusia dari dilema jabr dan qadr karena masalah ini telah menjadi objek perhatian semua peneliti dan pemikir.”[20]

Konsep dan Klasifikasi Ilmu menurut al-'Amiri

Biografi dari al-'Amiri

Nama, keluarga, dan latar belakang budaya
Nama lengkap al-‘Amiri adalah Abu al-Hasan[5] Muhammad bin Abu Dharr Yusuf al-‘Amiri al-Naysaburi. Dia lahir di kota Nishapur pada awal abad ke-4 dan menghabiskan hidupnya dengan kegiatan keilmuan, baik berupa mengajar, menulis, maupun mengadakan rihlah ilmiah ke kota-kota besar budaya Islam pada masanya terutama Baghdad, Rayy, dan Bukhara. Periode paling produktif dalam hidupnya adalah saat dia tinggal di Rayy dan Bukhara. Dia meninggal di kota kelahirannya pada tanggal 27 Shawwal 381 H./6 Januari 992 M..[6]

Ayahnya adalah Abu Dharr Muhammad bin Yusuf yang menjadi menteri bagi Nuh al-Hamid bin Nasr al-Sa‘id bin Ahmad al-Shahid bin Isma‘il bin Ahmad, Penguasa Khurasan dari Dinasti al-Samaniyyin.[7] Para penguasa Samaniyyin bersikap terbuka terhadap para penganut ideologi yang berbeda-beda sehingga Khurasan pada masa mereka menjadi tempat yang kondusif bagi perkembangan ilmu hadits, fiqih, tafsir, teologi (al-Maturidiyyah dan al-Isma‘iliyyah). Kondisi ini, juga maraknya diskusi-diskusi ilmiah pada masa itu, mempengaruhi struktur filosofis al-‘Amiri.[8]

Khurasan, tempat lahir dan wafatnya al-‘Amiri, menurut Khalifat, adalah wilayah yang mampu menandingi Irak dalam hal menghasilkan banyaknya penghapal al-Quran, penafsir, ahli hadith, ahli fiqih, ahli bahasa, penyair, sasterawan, teolog tentang agama Kristen, Yahudi, dan Majusi, pembela berbagai aliran teologi Islam baik yang moderat maupun yang ekstrim sehingga wilayah ini disebutnya bergejolak dengan gerakan keilmuan dalam berbagai bidang. Dari wilayah inilah muncul, selain al-‘Amiri, filsuf-filsuf besar seperti Abu Zayd al-Balkhi, Abu Tammam al-Naysaburi, Abu Sulayman al-Mantiqi al-Sijistani, Ibnu al-Khammar, al-Badihi, Abu al-Qasim al-Antaqi, Miskawayh, Abu al-Farj bin Hindu, Ibnu Sina, dan lain-lain. Kota-kotanya seperti Bukhara, Samarkand, Nishapur, dan Balkh adalah pusat-pusat keilmuan.[9]

Berdasarkan keterangan dari Mona Ahmad Abu Zayd, Al-‘Amiri bertemu dengan Abu Zayd al-Balkhi di kota Shamsatiyan berguru kepada al-Balkhi dalam ilmu-ilmu rasional sampai al-Balkhi wafat. Lalu al-‘Amiri pergi ke Bukhara, lalu ke wilayah al-Shami, tempat dia belajar Ilmu Kalam kepada Abu Bakar al-Qaffal. Di wilayah ini, al-‘Amiri berhubungan dengan banyak ulama dan penguasa, serta memanfaatkan perpustakaan-perpustakaannya, yang kelak akan dimanfaatkan juga oleh Ibnu Sina. Lalu, dia kembali ke Nishapur pada tahun 343 H..[10] Pada tahun 353 H., dia pergi ke Rayy dan tinggal di sana selama 5 tahun.[11]

Pada tahun 360 H., al-‘Amiri pergi ke Baghdad untuk pertama kalinya. Di Baghdad dia dikejutkan dengan sambutan yang tidak hangat oleh para pemikir dan filsuf Madrasah Filsafat Baghdad (Madrasah Yahya bin ‘Adi). Dia tinggal di Baghdad selama beberapa bulan, lalu pergi. Tapi, dia kembali lagi dengan ditemani Dhu al-Kifayatayn Ibnu al-‘Amid dan menghadiri majlis-majlis diskusi yang diselenggarakan oleh Ibnu al-‘Amid dan hasil-hasilnya dicatat oleh al-Tawhidi, Miskawayh, dan al-Sijistani. Setelah Dzu al-Kifayatayn terbunuh, al-‘Amiri kembali ke Nishapur, dan tinggal di sana setahun atau lebih. Pada tahun 368 H., dia pergi ke Bukhara dan tinggal di sana selama beberapa lama. Lalu, dia kembali lagi ke Nishapur dan tinggal di tanah kelahirannya itu sampai wafat pada tahun 381 H..[12]

Al-‘Amiri memiliki banyak murid dan teman, seperti Abu al-Qasim al-katib, Ibnu Maskuyah yang mengutipnya dalam buku Jawidan Kharad,[13] Abu Hayyan al-Tawhidi yang mengutipnya dalam banyak buku. Ibnu Sina pun mengutip beberapa perkataan al-‘Amiri dalam Kitab al-Najat dan menginspirasi Afdal al-Din al-Kashani, filsuf abad ke-7 H./13 M., murid Nasir al-Din al-Tusi.[14] Amin dan al-Zayn di dalam suntingan mereka atas kitab al-Imta>‘ wa al-Mu‘a>nasah mengatakan al-‘Amiri dan Ibnu Sina sering mengadakan diskusi dan buku al-Ajwibah li Su’a>la>t Ibnu Sina ditulisnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh al-‘Amiri.[15]

Pengertian konsep klasifikasi, perbandingan, konsep, proporsisi, dan pemikiran

Setelah kita mengetahui struktur ilmu, maka jelas bahwa konsep merupakan bagian dari struktur ilmu, oleh karena itu konsep-konsep dalam ilmu akan kami jelaskan lebih lanjut, diantaranya adalah:

a.       Konsep klasifikasi

Konsep merupakan istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan gejala secara abstrak. Sedangkan klasifikasi adalah pengelompokan sesuai dengan tingkatan/ kelas. Jadi konsep klasifikasi adalah suatu konsep yang meletakkan objek yang sedang ditelaah dalam suatu kelas tertentu. Semua konsep taksonomi dalam botani dan zoologi dengan bermacam sepesies, famili, genus, dan sebagainya merupakan konsep klasifikasi.[1] Ketiga konsep ini hanya berbeda dalam jumlah keterangan yang diberikan kepada kita mengenai suatu objek yang dimaksud. Misalnya bila kita mengemukakan bahwa sebuah objek adalah biru, hangat, atau berupa kubus maka dalam hal ini kita membuat suatu pernyataan yang lemah mengenai suatu objek tersebut. Bila kita tempatkan objek tadi dalam suatu kelas yang lebih sempit maka keterangan yang diberikan akan meningkat meskipun bahwa keterangan tersebut belumlah lengkap. Sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa sebuah obyek adalah makluk hidup. Kemudian bila kita katakan lebih Lanjut objek itu adalah binatang, dan lebih lanjut lagi bahwa objek tersebut adalah vertebrata maka kelas itu makin lama makin sempit menjadi mamalia, anjing, poodle, maka keterangan yang diberikan tetntang objek itu makin lama makin meningkat, meskipun tetap relatif kecil. Klasifikasi adalah konsep yang paling dikenal oleh kita semua kata-kata pertama yang dipelajari anak seperti “anjing, kucing, pohon”, pada dasarnya adalah klasifikasi.

Dalam konsep klasifikasi juga terdapat pembagian klasifikasi ilmu. Sebagian intelektual, seperti Jujun S. Suriasumantri, mengklasifikasikan pengetahuan menjadi dua cabang besar, yaitu ilmu (science), (yang mencakup ilmu-ilmu alam dan sosial), dan humaniora (humanities). Humaniora, menurut Elwood  adalah seperangkat sikap dan perilaku moral manusia terhadap sesamanya  yang meliputi filsafat, moral, seni, sejarah, dan bahasa.

b.      Konsep perbandingan

Konsep ini adalah konsep yang lebih efektif, karena konsep ini berperan sebagai perantara antara konsep klasifikasi dan konsep kuantitatif. Pengertian perbandingan itu sendiri adalah berasal dari bahasa inggris yang berarti “comparative” yang artinya bersamaan atau sama.

c.       Konsep konsep

Konsep atau anggitan adalah abstrak, entitas mental yang universal yang menunjuk pada kategori atau kelas dari suatu entitas, kejadian atau hubungan. Istilah konsep berasal dari bahasa latin conceptum, artinya sesuatu yang dipahami. Aristoteles dalam "The classical theory of concepts" menyatakan bahwa konsep merupakan penyusun utama dalam pembentukan pengetahuan ilmiah dan filsafat pemikiran manusia. Konsep merupakan abstraksi suatu ide atau gambaran mental, yang dinyatakan dalam suatu kata atau simbol. Konsep dinyatakan juga sebagai bagian dari pengetahuan yang dibangun dari berbagai macam kharakteristik.[2]

Sebuah konsep juga mempunyai Karakteristik konsep disebut atribut. Konsep itu memiliki tingkatan-tingkatan yang membedakan tingkatan suatu konsep dengan konsep yang lainnya adalah derajat abstraksi yang dimilikinya. Hal yang membedakan tingkat abstraksi suatu konsep dengan konsep lainnya adalah karakteristik utama konsep yang disebut atribut. Dan mempunyai Jenis-jenis konsep, De Cecco membagi konsep menjadi 3 jenis : 1. Konsep konjungtif, Contoh : kita mempunyai sejumlah buku pendidikan IPS yang memiliki ketebalan jumlah halaman materi dan sampul yang sama. Konsep konjungtif bersifat menghendaki pengembangan dari hal-hal yang bersifat konkret. 2. Konsep Disjungtif, Contoh : buku pendidikan IPS dan buku Pendidikan IPA mempunyai perbedaan-perbedaan seperti jumlah halaman, materi, dan sampul walaupun keduanya merupakan buku bacaan ilmiah. 3. Konsep Relasional, Contoh : konsep kepadatan penduduk, konsep waktu dan konsep arah.

d.      Konsep proposisi

Konsep Proposisi Menurut Whitehead mendefisikan proposisi adalah kesatuan sejumlah entitas aktual sebagai kemungkinan untuk membentuk suatu nexus, dengan kemungkinan keterhubungannya yang ditentukan oleh sejumlah objek abadi tertentu yang telah membentuk satu kesatuan objek abadi komplek. Entitas aktual merupakan kenyataan yang paling mendasar dari realitas. Realitas dibentuk dari entitas aktual. [3]

Pengertian proposisi yang lain adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari subjektif individual sampai objektif. suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar.

e.       Konsep Pemikiran

Konsep Pemikiran merupakan proses membina ilmu dan kefahaman yang melibatkan aktifitas mental dalam otak manusia. Semasa berfikir, otak manusia akan bertindak dengan usaha memahami rangsangan luar yang diterima melalui derita, membentuk konsep, membuat tafsiran dan tindak balas berdasarkan pengalaman yang sedia ada dalam ingatan. [4]

[1] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif,  Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2003, hlm. 147-148

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Konsep

[3] Whitehead, Albert North (terj.), Filsafat Proses, Proses dan Realitas Dalam Kajian Kosmologi, Indonesia, Kreasi Wacana, 2009, hlm. 30

[4] http://gurufikir.blogspot.com/
Unknown Article, Filsafat